Jumat, 06 Maret 2009
Kamis, 05 Maret 2009
Ahmadiyya Muslim
Ahmadiyya Muslim Community
An Overview
The Ahmadiyya Muslim Community is a religious organization, international in its scope, with branches in over 193 countries in Africa, North America, South America, Asia, Australia, and Europe. This is the most dynamic denomination of Islam in modern history, with worldwide membership exceeding tens of millions.
The Ahmadiyya Community was established in 1889 by Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) in a small and remote village, Qadian, in the Punjab, India. He claimed to be the expected reformer of the latter days, the Awaited One of the world community of religions (The Mahdi and Messiah). The Community he started is an embodiment of the benevolent message of Islam -- peace, universal brotherhood, and submission to the Will of God -- in its pristine purity. Hadhrat Ahmad proclaimed Islam as the religion of man: "The religion of the people of the right path" (98:6)
With this conviction, the Ahmadiyya Community, within a century, has reached the corners of the Earth. Wherever the Community is established, it endeavors to exert a constructive influence of Islam through social projects, educational institutes, health services, Islamic publications and construction of mosques, despite being bitterly persecuted in some countries. Ahmadi Muslims have earned the distinction of being a law-abiding, peaceful, persevering and benevolent community.
The Ahmadiyya Muslim Community in Islam was created under divine guidance with the objective to rejuvenate Islamic moral and spiritual values. It encourages interfaith dialogue, and diligently defends Islam and tries to correct misunderstandings about Islam in the West. It advocates peace, tolerance, love and understanding among followers of different faiths. It firmly believes in and acts upon the Qur'anic teaching: "There is no compulsion in religion." (2:257) It strongly rejects violence and terrorism in any form and for any reason.
The Community offers a clear presentation of Islamic wisdom, philosophy, morals and spirituality as derived from the Holy Qur'an and the practice (Sunnah) of the Holy Prophet of Islam, Muhammad (peace and blessings of Allah be on him). Some Ahmadis', like late Sir Muhammad Zafrulla Khan (who served as the first Foreign Minister of Pakistan; President of the 17th General Assembly of U.N.O.; President and Judge of the International Court of Justice, at the Hague), and Dr. Abdus Salam (the Nobel Laureate in Physics in 1979), have also been recognized by the world community for their outstanding services and achievements.
After the demise of its founder, the Ahmadiyya Community has been headed by his elected successors -- Khalifas. The present Head of the Movement, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, was elected in 2003. His official title is Khalifatul Massih V.
Islam
“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4).
Dengan kata lain, Allah s.w.t. meminta kita untuk menyelaraskan diri kita kepada realita yang inheren (melekat)di dalam kata Islam. Disini ada pengakuan bahwa Al-Quran merupakan ajaran yang sempurna dan bahwa saat turunnya Al-Quran merupakan saat dimana ajaran sempurna tersebut sudah bisa diungkapkan kepada manusia. Hanya Al-Quran yang layak membuat pengakuan demikian, tidak ada kitab samawi lainnya yang pernah mengajukan pernyataan seperti itu. Baik kitab Taurat mau pun Injil tidak mau memberikan pernyataan demikian. Sebaliknya malah, karena kitab Taurat mengemukakan perintah Tuhan bahwa Dia akanmembangkitkan seorang Nabi dari antara para saudara Bani Israil dan akan meletakkan Firman-Nya dalam mulut Nabi itu dan barangsiapa tidak mau membuka telinganya bagi firman Tuhan tersebut akan dimintakan pertanggungjawaban1. Dari hal ini menjadi jelas bahwa jika Taurat memang sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan manusia di abad-abad berikutnya maka tidak perlu lagi adanya kedatangan Nabi lain dimana manusia diwajibkan mendengar dan patuh kepadanya. Begitu pula dengan Injil, tidak ada mengandung satu pun pernyataan yang mengemukakan bahwa ajaran yang dibawanya telah sempurna dan komprehensif. Bahkan jelas ada pengakuan Yesus bahwa masih banyak yang harus disampaikan kepada para murid beliau namun mereka belum kuat menanggungnya, tetapi jika nanti sang Penghibur atau Roh Kebenaran (Paraclete) telah datang maka ia akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran2. Dengan demikian jelas bahwa Nabi Musa a.s. pun mengakui masih kurang sempurnanya kitab Taurat dan memintakan perhatian umatnya kepada seorang Nabi yang akan datang. Begitu pula dengan Nabi Isa a.s. yang mengakui kekurang-sempurnaan ajaran yang beliau bawa karena saatnya belum tiba untuk dibukakannya ajaran yang sempurna, tetapi juga mengingatkan bahwa jika nanti Paraclete sudah turun maka ia itulah yang akan memberikan ajaran yang sempurna. Sebaliknya dengan Al-Quran yang tidak ada meninggalkan persoalan terbuka untuk diselesaikan oleh kitab lainnya sebagaimana halnya dengan Taurat dan Injil, bahkan mengumandangkan kesempurnaan ajaran yang dikandungnya dengan firman:“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4).
Inilah yang menjadi argumentasi pokok yang mendukung Islam sebagai agama yang mengungguli agama-agama lainnya dalam ajaran yang dibawanya sehingga tidak ada agama lain yang bisa dibandingkan dalam kesempurnaan ajaran yang dikandungnya. Karakteristik kedua daripada Islam yang tidak ada pada agama lain yang juga menjadi bukti kebenarannya adalah agama ini memanifestasikan karunia dan mukjizat yang hidup. Tandatanda yang diperlihatkan Islam tidak saja mengukuhkan kelebihannya di atas agama lain tetapi juga menjadi daya tarik
bagi kalbu manusia melalui penampakan Nur-nya yang sempurna. Karakteristik pertama Islam sebagaimana dijelaskan di atas yaitu mengenai kesempurnaan ajaran yang dibawanya, belumlah cukup konklusif untuk meneguhkan bahwa Islam adalah agama benar yang diturunkan oleh Allah s.w.t. Seorang lawan yang fanatik dan berpandangan cupat, bisa saja mengatakan bahwa bisa jadi agama itu sempurna namun belum tentu berasal dari Tuhan. Karakteristik yang pertama memang bisa memuaskan seorang pencari kebenaran yang bijak setelah diombang-ambingkan oleh berbagai keraguan, membawanya lebih dekat kepada suatu kepastian, namun belum mengukuhkan permasalahannya secara konklusif jika belum dirangkaikan dengan karakteristik kedua. Melalui rangkaian kedua karakteristik itu maka Nur agama yang benar mencapai kesempurnaannya. Agama yang benar mengandung ribuan bukti dan Nur, namun dua karakteristik tersebut cukuplah kiranya memberi keyakinan bagi hati seorang pencari kebenaran dan menjelaskan permasalahannya sehingga memuaskan mereka yang menyangkal kebenaran. Tidak ada lagi yang diperlukan sebagai tambahan. Pada awalnya aku bermaksud mengemukakan tigaratus argumentasi dalam buku Barahin Ahmadiyah. Tetapi setelah direnungi lebih lanjut, aku merasa dua karakteristik ini bisa menggantikan ribuan buktibukti lain dan karena itu Allah s.w.t. menjadikan aku merubah rencanaku itu.
(Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 3-6, London, 1984)